Rabu, 06 Mei 2020
Gunung dan Batu
Cerita Gunung dan Batu
Batu besar ditumpuk di awal, lalu batu kecil, di atasnya lagi pasir, kemudian lapisan tanah.. jadilah gunung yang kokoh..
Artinya bila mau menyesaikan masalah, selesaikan dulu masalah yang besar yang berdampak laten kemudian baru masalah kecil.. akhirnya sampai selesai masalah yang lebih renik lagi..
Dengan cara begitu hiduppun menjadi nyaman sambil memandang gunung yang membiru..
Apakah gunung memang biru hakikatnya tidak.. kalau didekati ya realita isinya batu, koral, pasir dan tanah..
Semua kehidupan di bumi hanya fatamorgana karena hidup hanya ilusi. Hakikinya yang real adalah di alam akhirat.. untuk itu siapkan sejak sekarang..
Salam,
Tangsel Mid Ramadhan 20
#notaverrijpma
#Theraafiat
Rabu, 29 April 2020
Thoriqoh Sebagai Makanan dan Obat; Suatu Resensi Buku
Resensi Buku
Judul Buku : "Thoriqoh sebagai makanan dan obat.
Mengikuti Jalan Guru Mursyid, Menggapai Surga Dunia dan Surga Akherat."
Karya : Muhammad Luthfi Ghozali
Penerbit : Abshor, 2017. Semarang
Halaman : ix + 186. 14x 20
Peresensi : Verri JP
Berat : 300 gram
Harga : Rp 75.000,- Belum ongkir
Arti kata Thoriqoh menurut bahasa adalah jalan. Maksudnya jalan tertentu yang membuat orang jalan sampai kepada tujuan tertentu.
Perkataan thoriqoh dalam terminologi tasawuf menurut Zamakh sari Dhafier, pengarang Tradisi Pesantren adalah "sebagai jalan menuju surga".
Menurut Muhammad Luthfi Ghozali, tujuan orang berthoriqoh itu ada dua sekaligus yaitu untuk mendapatkan surga dunia dan surga akhirat seperti yang ditulis sebagai judul buku ini.
Surga dunia (jamatul ma'rifat) yaitu orang yang mendapat makrifatullah yaitu kenal Allah secara persaksian, kenal Sunatullah, yaitu sistem yang dibangun Allah dalam kehidupan alam semesta. Orang yang mengenal sunatullah, hatinya tidak cenderung kepada gemerlapnya duniawi, meski kehidupannya mengurusi usaha dunia maka hatinya terjaga dari tipuan kehidupan duniawi. Jasadnya memang di pasar tapi hatinya istiqomah menghadap yang memciptakan kehidupan di pasar, karena hatinya cemerlang rongga dadanya lapang, disinari nur ketuhanan.
Di dalam buku "Thoriqoh sebagai makanan dan obat" bagi penulis resensi buku ini, menarik untuk dikupas.
Pertama, thoriqoh dalam ajaran tasawuf yang umumnya diketahui adalah suatu amaliah yang diberikan oleh Syeikh Mursyid, untuk mendekatkan diri kepada Allah, melalui dzikir dan cara lain yang ditentukan oleh thoriqoh tersebut.
Harun Nasution, seorang akademisi dan tokoh Islam, menjelaskan ada hal yang prinsipil antara thoriqoh dan thoriqoh lainnya. Perbedaan yang utama adalah pada jenis dzikir dan wirid serta tatacara pelaksanaannya jadi wiridlah yang menentukan setiap thoriqoh.
Apa yang ditulis dalam buku-buku thoriqoh sejenisnya biasanya klasik dan baku, karena perkembangan thoriqoh begitu pesat sejak didirikannya thoriqoh Qadiriyah, yang didirikan oleh Syekh 'Abdul Qadir al Jilani (w 1165).
Kedua, di dalam buku yang saya resensi ini dijelaskan secara populair mengikuti zaman "now", tanpa melupakan pokok-pokok bahasan klasik seperti tawasul dan Robithoh, tawajjuh/wuquf qolbi dan proses kelahiran ruhani.
Diantaranya dijelaskan bahwa manusia adalah makhluk lahir batin, jasmani ruhani, bahkan manusia adalah ruh yang dibungkus fisik, bukan sebaliknya, fisik yang dihidupi ruh. Seperti manusia fisik, untuk pertumbuhan dan kesehatan badannya butuh makan, manusia ruh juga demikian. Kalau manusia fisik butuh makanan yang terdiri dari makanan pokok, seperti lauk pauk, ditambah cemilan supaya cepat gemuk, maka manusia ruh juga demikian.
Makanan manusia ruh itu bukan nasi dan lauk pauk, melainkan pahala ibadah, baik ibadah fardhu maupun ibadah sunnah. Adapaun cemilannya adalah dzikir dan wirid-wirid yang diistiqomahkan. Dengan mendapat asupan yang cukup dan seimbang, makanan lahir dan makanan batin, maka kehidupan manusia menjadi seimbang, homeostatis. Dengan kehidupan yang seimbang, berarti manusia bisa menyelaraskan kehidupannya dengan kehidupan alam semesta yang tercipta seimbang. Itulah kehidupan yang paling ideal, kehidupan orang berilmu, beriman, dan bertakwa, untuk mencapainya, orang harus berthoriqoh.
Terakhir, tradisi masyarakat Islam mengenal adanya majlis dzikir, yakni sekumpulan orang yang secara rutin menyelenggarakan dzikir bersama, dengan frekwensi tertentu.
Pada masyarakat modern, majlis dzikir seperti thoriqoh ini akan sangat efektif dalam membuat keseimbangan antara menuruti dinamika kerja yang terus menantang dan dorongan bathin yang merindukan ketentraman spiritual.
Buku ini akan mengajak Anda menyelami samudra dzikir atau tashawuf (aspek bathin dari agama). Pembaca akan diajarkan selangkah demi selangkah dengan bahasa kekinian demi kesadaran akan tujuan hidup yang hakiki. Hidup Anda akan diarahkan untuk kepentingan utama dari hidup itu sendiri, yakni lebih dekat kepada Tuhan sebagai "Asal Sejati" sekaligus "Tujuan Akhir". Mungkin, itulah alasan kenapa judul lengkapnya dipilih " Thoriqoh Sebagai Makanan dan obat. Mengikuti Jalan Mursyid, menggapai sorga dunia dan sorga akhirat".
Akhirul kalam, buku ini sangat penting dimiliki oleh setiap muslim yang ingin lebih dalam menghayati nilai-nilai keagamaan yang bukan sekedar ritual jasad dan teori keyakinan yang kering secara spiritual. Untuk para praktisi thoriqoh rasanya buku ini adalah buku wajib yang perlu dijadikan koleksi.
Apabila Anda tertarik untuk mendapatkan buku ini, bisa langsung kontak Verri JP, WA No. 08111494599 sekarang juga..
Senin, 27 April 2020
Alfurqon, Lailatul Qodar Di Luar Ramadhan- Resensi Buku
Resensi Buku : Al Furqon Lailatul Qodar Di luar Ramadhan
Karya : Muhammad Luthfi Ghozali
Penerbit : Abshor, Semarang
Halaman : xx +448 hlm. 14 x21
Diresensi oleh : Verri J.P
Kondisi buku : Baru dari Penerbit.
Berat buku : 1.1 kg
Harga : Rp 105.000,- Belum Ongkir
https://verijp.blogspot.com/2020/04/alfurqon-lailatul-qodar-di-luar.html?m=1
Prolog:
Membaca judul buku "Al Furqon Lailatul Qodar Di luar Ramadhan", bagaikan membaca tafsir dua firman Allah, yaitu Surat Al Furqon (surat ke-25) dan Surat Al Qadr (Surat ke 97).
Menurut kamus ilmu Al Quran yang dimaksud Al Furqan adalah pembeda, maksudnya membedakan antara yang hak dan bathil, yang baik dan buruk, yang bermanfaat maupun mudharat sehingga dengan Al Furqon itu hati seorang hamba menjadi yakin kepada Tuhannya.
Sedangkan Al Qadr (kadar) artinya kemuliaan.
Isi surat ini adalah tentang diturunkannya Al Quran pada malam lailatul kadar, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, para malaikat dan Jibril turun ke dunia pada malam lailatul kadar untuk mengatur segala urusan.
Bicara tentang lailatul kadar mengingatkan saya pada pencarian saya tentang malam Lailatul Kadar di bulan Ramadhan lima belas tahun yang lalu di Gua Hiro, di suatu gunung yang bernama Jebel Nur di Mekah, Saudi Arabia. Di sanalah tempat Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu pertama kali berupa Surat Al Qadr (Surat ke-97).
Di kota Mekah saya banyak bertanya kepada beberapa ustadz atau para kyai dari Indonesia yang kebetulan sedang umroh tentang ciri-ciri Lailatul Qadar tersebut.
Dari uraian mereka banyak informasi yang bisa saya dapatkan diantaranya mereka menyebut ciri lailatul qadar adalah, malamnya hening, membekunya air, merunduknya pohon dan lain-lain. Setelah mengetahui ciri-ciri tersebut bukannya saya menjadi tenang, namun malah sebaliknya membuat semakin penasaran dan berakibat pada peribadatan saya terganggu karena menjadi was-was takut kehilangan lailatul qadar tersebut.
Semestinya saya tidak perlu waswas, karena di dalam perjalanan spiritual bukanlah letak keberhasilannnya bukan pada ujian fisik belaka dan hasilnya bukan berupa ijazah ataupun stempel passport yang nyata melainkan berupa suatu mentalitas pemahaman seorang hamba kepada Tuhan-Nya sehingga menjadikannya sebagai wushul perantara atau tersingkapnya hiasan Al Haqq kepada seorang hamba dimana dia tenggelam di dalam Nya.
-o0o-
Sengaja prolog diatas saya tulis untuk mengajak para pembaca memahami konsepsi waktu.
Bagaimana kita bisa memahami waktu yang sudah lampau tapi bila kita menggalinya kembali dengan 'bermemori ria' seolah menjadi dekat bahkan seolah-olah baru saja terjadi?
Bicara tentang waktu, semua memori tentang perjalanan pencarian lailatul kadar tersebut muncul seolah-olah tidak ada penyekat antara memori kejadian tahun 1994 dengan tahun 2009. Diam-diam saya membenarkan teori Roger Sperry "Dual Brain" dan "Hemispheric Specialization" yang menyatakan bahwa salah satu fungsi otak kanan adalah pemikiran holistik dan tidak bergantung waktu.
Seperti kita ketahui bahwa umumnya yang disebut malam lailatul qadar - disebut Al Quran sebagai "Satu Malam yang lebih baik dari seribu bulan" mengacu kepada satu malam di bulan Ramadhan. Tetapi bagaimanakah malam itu? Apa terjadi hanya sekali saja pada saat turunnya Al Quran /Nuzulul Quran? setiap bulan Ramadhan sepanjang sejarah? Atau sepanjang tahun baik Ramadhan ataupun tidak?
Malam Al Qadr yang ditemui Nabi pertama kali adalah ketika menyendiri di Gua Hira, Beliau merenung tentang diri dan masyarakatnya. Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Jibril atau Ar-Ruh membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.
Langkah kita untuk memahami Lailatul Qadar adalah beriman dahulu, berdasarkan pernyataan Al Quran "Ada satu malam yang bernama Lailatul Qadar" (QS. 97:1) dan bahwasannya malam itu adalah "malam yang pernuh berkah dimana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar Dengan penuh kebijaksanaan" (QS.44:3).
Dilihat dari penjelasan diatas yang bersumber pada Kalamullah yang intinya menjelaskan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada bulan Ramadhan.
Bagaimana kalau Al Furqon, lailatul Qadar di luar Ramadhan apakah bisa terjadi?
Menurut Muhammad Luthfi Ghozali, lailatul Qadar di luar bulan Ramadhan itu bisa saja terjadi alasannya, dengan asumsi bahwa dengan amal ibadah itu manusia bisa meningkatkan kualitas hidupnya, maka bagi orang-orang yang berharap mendapatkan Lailatul Qadar bisa mencari kapan saja, baik di dalam maupun di luar Ramadhan, yaitu dengan melaksanakan mujahadah dan riyadah di jalan Allah SWT. Asumsi itu berdasarkan bukti bahwa setiap perintah Allah SWT kepada hamba-Nya, pasti ada aspek pembelajarannya (tarbiyah) di dalamnya. Tarbiyah yang sangat berguna bagi pembentukan karakter dan pendewasaan jiwa manusia, yaitu pada aspek filosofinya yang selalu dirahasiakan eksistensinya kecuali bagi seorang hamba yang matahatinya telah cemerlang dengan nur ma'rifat.
Aspek pembelajaran itu bukan untuk memberatkan hidup manusia, namun sesungguhnya hanya untuk menciptakan peluang amal, agar manusia mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, baik lahir maupun bathin.
Hakekat Lailatul Qadr dan Al Furqon adalah sama, yaitu sama-sama anugerah Allah SWT yang dikhususkan kepada hamba-hambanya yang beriman.
Perbedaannya, lailatul kadar itu fasilitas (serupa idul fitri) sementara Al Furqan adalah buah yang diberikan Allah SWT sebagai balasan apa-apa yang telah dikerjakan oleh seorang hamba ketika dua fasilitas tersebut dipakai dengan benar.
Jadi, keberadaan lailatul Qadr dan Idul Fitri itu di luar jiwa manusia sedang Al Furqon ada di dalam hatinya. Bisa berupa pengetahuan, iman, yakin, Nur Allah, nur Ma'rifat atau apapun juga, yang hakekatnya sama-sama berbentuk kekuatan yang memancar dari dalam hati, sehingga mampu menjadi obor penyulut semangat pengabdian dan perjuangan di jalan Allah SWT.
Menurut Luthfi Ghozali yang mendapatkan Al Furqon adalah Ulul Albab, sehingga dengannya Ulul Albab selalu mampu membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang ditebarkan dalam kehidupan. Luthfi mengutip QS 3:190, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam terdapat tanda-tanda bagi Ulul Albab". Luthfi menegaskan bahwa yang dimaksud Ulul Albab bukan hanya orang yang berakal saja sebagaimana pemahaman umum terhadap ayat tersebut.
"Sebab, kalau hanya orang yang berakal saja, tidak mungkin mereka mampu membaca setiap sinyal yang disebarkan Allah SWT di alam semesta, terlebih terhadap sinyal yang bersifat bathin. Karena hanya orang yang matahatinya cemerlang saja yang mampu berbuat demikian." Tegas luthfi yang ditulis pada bab terakhir. Selanjutnya Luthfi menjelaskan secara terperinci bagaimana menjadi Ulul Albab tersebut.
Ide yang diberikan Luthfi tersebut disetujui Ahsin W. Al Hafidz, di dalam Kamus Al Quran karangannya, menurut Ahsin yang dimaksud Ulul Albab adalah orang yang memiliki akal murni, yang tidak diselubungi oleh kulit, yaitu kabut ide yang melahirkan kerancuan dalam berfikir, dengan perkataan lain, Ulul Albab adalah orang-orang yang berfikir atau cendekia.
Salah satu sifat Ulul Albab yang dipuji oleh Allah adalah "yang mendengar perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya." (QS AzZumar [39]:18)
Sebagai penutup, Luthfi menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Al Furqon atau Lailatul Qadr diluar Ramadhan adalah adalah Nur Allah yang menerangi jati diri manusia agar dengan Nur itu, manusia mampu memantulkan Nur kesempurnaannya dengan sempurna demi kesempurnaan alam semesta, atau yang disebut rahmatan lil aalamiin dan ini artinya menjadi insan kamil.
Sekedar masukan dari peresensi, buku "Al Furqon, lailatul Qadar di Luar Ramadhan" ini berdurasi baca cukup panjang, maklum tebalnya mencapai 448 halaman lebih. Akan lebih baik bila menggunakan alur menurun, yaitu kesimpulan dikedepankan dahulu baru terurai ke sub pokok bahasan. Karena judul buku ini Al Furqon, akan tetapi masuk ke bab Al Furqonnya baru dibahas pada halaman 291 sehingga pembaca sering dibuat penasaran kenapa untuk mencapai bab yang dijadikan judul buku itu terlalu lama. Walaupun demikian, rasanya ini tidak masalah karena Al Furqon dan Lailatul Kadar itu masing-masing bisa berdiri sendiri. Pun pula, lailatul kadar lebih banyak membahas masalah waktu, bukankah lebih tepat bila waktu itu sebagai predikat menerangkan Al Furqon sebagai subyek?
Buku ini mengajak pembaca menyelami hikmah dibalik segala kehendak Allah Ta'ala dan kemampuan diri dalam membaca tanda-tanda yang ditebarkan baik dalam ayat yang tersurat maupun tersirat serta inayah azaliyah yang menyinari perilaku, yang akan membuka penutup mata hati dan membawa manusia kepada jalan yang lurus serta keridhoan Tuhannya.
Buku ini, dengan gaya bahasanya yang mengalir ringan akan sangat bermanfaat bagi siapa saja yang menyukai bacaan syariah (aspek lahir) dan aspek bathin. Buku ini sangat cocok dibaca saat bulan Ramadhan, karena lailatul qadar bertepatan waktunya dengan bulan Ramadhan, sambil untuk mengisi waktu Anda yang lapang karena bertepatan diterapkannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di seluruh negara Indonesia.
Apabila Anda tertarik buku "Al Furqon, Lailatul Qodar di Luar Ramadhan" ini silakan WA untuk order sekarang juga kepada Verri JP : WA 08111494599.
Kehidupan Saat Musim Covid19, antara Tantangan dan Peluang
Kehidupan Saat Musim covid 19, antara Tantangan dan Peluang.
Ternyata kehidupan saat musim pandemi covid 19 memerlukan strategi untuk mengatasinya. Setelah penulis renungkan diperlukan beberapa hal agar kita bisa melewatinya.
1. Kesehatan fisik; kesehatan ini mutlak diperlukan bila kita mau berusia panjang. Diantaranya olah raga, dan berjemur pagi sesuatu yang wajib dilakukan.
2. Kekuatan mental; kekuatan mental diperlukan karena ketegangan jiwa yang dialami sudah tidak sama dengan kehidupan biasanya.
3. Kesehatan spiritual; diperlukan untuk menyetimbangkan olah rahani, yang dilakukan seperti meditasi, dzikir, berdoa dan muhasabah.
4. Pola pikir;
Dengan situasi yang berbeda dengan kehidupan biasanya perlu pola pikir yang tenang dan terkendali, berpikir positip tetap diperlukan dan tetap istiqomah.
Pusing itu bukan karena banyak pikiran, tapi karena salah mikir.
Harusnya fokus mikir jualan sendiri, malah ini mikirin utang. Namun, bila sudah terlanjur mulailah berpikir agar hutang terlunasi dengan menjual harta simpanan yang dimiliki.
5. Gaya hidup sehat;
Gaya hidup sehat diperlukan terutama agar kebersihan badan selalu terjaga, dan pola makan sehat diikuti, serta dalam segala hal higienis diutamakan.
6. Tata kelola pekerjaan; banyak orang yang di phk dan banyak juga yang dirumahkan. Pekerja harian bahkan tidak melayani pelanggan demi menjaga keamanan dan kesehatan pribadi.
Untuk itu diperlukan tata cara mengelola karir, bagi yang tidak bisa bekerja sesuai keahliannya, maka dituntut untuk bekerja di rumah, boleh mulai terjun pada bisnis yang baru, boleh juga merubah rumah menjadi ajang berbisnis, agar dapur tetap ngebul.
7. Tour of duty; suasana bisnis yg lengang membuat kita terpacu untuk berupaya agar dapat peluang bisnis baru yang menjanjikan. Seperti usaha toko online. Memasak kue kesukaan dan menjualnya agar ada penghasilan.
8. Agar tetap setimbang emosinya, komunikasi dengan sahabat boleh terus dilanjutkan tapi dengan cara mengikuti aturan sosial distancing.
Sekarang ini saat yg tepat buat bangkit karena hampir semua lini usaha mulai dari nol lagi.
https://verijp.blogspot.com/2020/04/kehidupan-saat-musim-covid19-antara.html?m=1
Salam,
Verri JP
Rumah Sehat Thera Afiat
Jl. Kalasan No1.
Sarua Permai, Pamulang
Tangsel
Sabtu, 25 April 2020
Menggali Kebahagiaan Dari Sumbernya, Resensi Buku
Resensi Buku
Judul : Menggali Kebahagiaan Dari Sumbernya.
Mengobati stress dan trauma dengan dzikir dan doa.
Karya : Muhammad Luthfi Ghazali
Peresensi : Verri JP
Penerbit : al Abshor, Semarang, 2017
Halaman : viii + 178: 14 x20
Kategori: Agama & Kepercayaan
Kondisi : Baru
Berat : 0.25 Kilogram
Harga : Rp 60.000,- belum ongkir
https://verijp.blogspot.com/2020/04/menggali-kebahagiaan-dari-sumbernya.html?m=1
Era milenial ditandai dengan dua hal sebagai cirinya. Penggunaan teknologi modern sebagai alat bantu dan berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai wujud intelektual manusia. Dengan kedua hal tersebut generasi modern semestinya manusia menjadi lebih arif dan bijak. Namun, dalam kenyataannya banyak manusia yang kwalitasnya lebih rendah dibanding kemajuan berpikir dan teknologi yang dicapainya. Akibatnya ada ketidak seimbangan yang menimbulkan gangguan kejiwaan.
Ketidak berdayaan manusia bermain dalam pentas peradaban modern membuat manusia terperangkap dalam situasi "manusia terpasung" seperti jaman lockdown sekarang ini karena wabah Cofid 19. Dada pun terasa sesak.
Sebagai akibat dari sikap hipokrit yang berkepanjangan ini manusia menjadi stress dan trauma karena psikosomatik.
Dzikir dan doa sebagai solusi krisis.
Krisis keruhanian sebenarnya berkaitan dengan pandangan hidup seseorang. Pandangan hidup yang salah berakibat logika yang salah dalam merespon realita.
Manusia adalah mahluk yang berpikir dan merasa. Berdoa artinya menghidupkan hubungan rasa antara manusia dengan Tuhan. Kesadaran rasa ini akan menempatkan manusia dalam sistim harmoni sunatullah. Bagi orang yang sudah sampai pada stasiun ridha atau bermakrifat atau mahabbah tentu tidak terganggu, karena pusat perhatiannya tidak lagi pada yang berubah tapi pada yang Tetap dan Tidak Berubah, yaitu Allah Swt. Kesadaran rasa berhubungan dengan Allah swt ini akan membuat bashirah terbuka sehingga membuat selalu ingin dekat dengan Allah Taala.
Kesadaran merasa berhubungan dengan Tuhan itulah yang disebut dzikir.
Dzikir adalah aktivitas mental, bukan aktivitas mulut. Dzikir melalui mulut adalah awal daro dzikir aktivitas mental. Sholat kita dan doa kita, bahkan pekerjaan kita menurut salah satu riwayat adalah wujud dari dzikir juga.
Alquran secara jelas memerintahkan kaum beriman agar banyak berdzikir dan bertasbih. QS 3:41. Dengan dzikir yang benar akan memperoleh ketenangan hati Qs 13:28.
Orang berdoa
*"Robbisy-rohlie shodrie wa yassirlie amrie"* berarti memohon kepada Allah Swt. diberi kebahagiaan hidup, karena yang dimaksud dada lapang adalah kebahagiaan, padahal untuk mencapainya tidaklah mudah.
Manusia harus memenuhi syarat-syarat tertentu untuk bahagia. Diantaranya terpenuhinya segala kebutuhan dasar hidupnya, baik yang bersifat jasmani, kejiwaan, sosial dan spritual. Tanpa terpenuhinya kebutuhan dasar tersebut mustahil hati manusia bisa bahagia kecuali dengan mengupayakan melalui sumbernya.
Kebahagiaan bukan dihasilkan dari olah pikiran melainkan kondisi perasaan.
Hatilah yang bisa merasakan bahagia, ketika pikiran sudah tidak terganggu lagi oleh kesibukan dan kegaduhan hidup.
Jadi capaian yang diharapkan dengan berdo'a *"Robbisy-rohlie shodrie wa yassirlie amrie"* adalah kebahagiaan hidup dengan mencari langsung dari sumbernya ketika syarat-syaratnya sedang tidak terpenuhi bagi seseorang karena hidupnya sedang bermasalah, stress atau trauma sehingga dadanya sempit dan lisannya kelu, tidak sanggup berbicara.
Akhirul kalam pada masyarakat modern dzikir dan doa sangat efektif dalam membuat keseimbangan antara menuruti dinamika kerja yang terus menantang dan dorongan batin yang merindukan ketentraman spiritual yang membuat dada terasa lapang.
Di atas adalah sekilas kesimpulan dari apa yang dipaparkan pada buku karya Muhammad Luthfi Ghazali, selain rahasia berlapang dada yang merupakan indikator adanya hidayah Allah di dalamnya, dijelaskan secara gamblang bagaimana pikiran bisa membentuk perasaan, sedangkan perasaan mempengaruhi pikiran, dengan dada lapang menjadikan orang beriman bisa banyak bertasbih dan berdzikir kepada Allah Taala, hati yang sehat, pikiran jadi sehat. Sebagai penutup dijelaskan adab dalam berdoa agar doa makbul.
Penulis merekomendasikan buku ini agar bisa dibaca sambil mengamalkan dzikir dan mengisi kegiatan stay @t home selama diterapkan PSBB - Pembatasan Sosial Berskala Besar.
Untuk order buku "Menggali Kebahagiaan dari Sumbernya, Mengobati Stress dan Trauma dengan Dzikir dan Doa" bisa hubungi sekarang juga : Verri JP telp/WA no. 08111494599.
Empon-empon Menjaga Tubuh dan meningkatkan Imunitas
Empon-empon Menjaga Tubuh dan Meningkatkan Imunitas.
Jaga dan tingkatkan Imunitas tubuh anggota keluarga kita, dengan mengkonsumsi Jamu Godok ramuan traditional turun temurun. Dengan khasiat Jahe Merah, temulawak, sereh, kunyit, kayu manis dan bahan2 lainnya yang biasa disebut empon-empon.
Salah satu contoh yang teratur minum empon-empon adalah pasukan pengaman wisma Atlit yang berubah menjadi rumahbsakit Cofid 19. Mereka pun minum empon-empon untuk menjaga imunitas tubuh mereka dari serangan Covid19.
Sumber foto :Erna SDM.
Perihal empon-empon, guru Besar Ilmu Biologi Molekuler Universitas Airlangga Surabaya, Chaerul Anwar Nidom berharap empon-empon bisa menangkal virus corona. Chaerul menyebut beberapa jenis empon-empon memiliki kandungan curcumin, yaitu jahe, temu lawak, kunyit, kencur, serai, dan kayu manis.
Menurutnya, zat curcumin ini bisa menangkal virus hepatitis C dan flu burung /H5N1. Ia menyebut virus corona memiliki kemiripan genetik dengan virus jenis lainnya, seperti hepatitis C dan flu burung. Untuk membuktikan kemampuan curcumin mencegah virus corona harus melewati serangkaian penelitian.
SourceCNN.
Empon-Empon Untuk Covid 19;
Mempertimbangkan kebutuhan masyarakat akan solusi masalah Covid 19 yang belum ada obatnya. Rumah Sehat Thera Afiat menyediakan herbal wedang empon-empon untuk mencegah Virus Corona yang dikemas secara praktis.
Komposisi :
Jahe, Temulawak, Sereh, Kunyit, dan Kayumanis.
Cara penyajian:
Masukkan semua bahan ke dalam panci atau kwali.
Rebus dengan 4 gelas air sampai mendidih dan siap diminum.
Bahan jamu tersebut bisa diulang selama 3 hari.
https://tokoherbalkelapagading.blogspot.com/2020/03/empon-empon-mencegah-virus-corona.html?m=1
Untuk order/query secara online hubungi sekarang juga :
Verri JP
Rumah Sehat Thera Afiat
Wa 08111494599
Atau 087883171247
Jumat, 24 April 2020
Menguak Keajaiban Mimpi, Menggali Sumber Ilmu Laduni
Judul buku : Menguak Keajaiban Mimpi,
Menggali Sumber Ilmu Laduni.
Karya : M. Luthfi Ghozali
Peresensi : Verri JP
Penerbit : Al Abshor, Semarang, 2017.
Halaman : x + 188, 14 x 20
Berat : 250 gram.
Mimpi seseorang itu berkaitan dengan jiwa orang dan niat sejati orang. Nilai yang dilekatkan pada setiap unsur berhubungan erat dengan persepsi ideal yang diambil dari kehidupan sebenarnya. Jadi, kita harus menyadari bahwa tindakan apapun yang dilakukan seseorang dalam sebuah mimpi sesungguhnya karena izin Tuhan.
Laduni adalah pemberian Allah. Menurut kamus ilmu Tasawuf ilmu laduni asal kata ladun. Ladun bermakna sisi, dekat, pangkuan. Karena kata ladun termasuk jenis kata zharaf, bisa diartikan dari sisi, atau dari pangkuan. Al Ghazali, mendefinisikan laduni dengan ilmu yang dipancarkan langsung oleh Tuhan ke lubuk hati manusia tanpa belajar atau berargumentasi ilmiah.
Pada umumnya orang mempunyai anggapan terlalu berlebihan terhadap Ilmu Laduni. Ilmu Laduni dianggap sesuatu yang sangat sakral sehingga tidak bisa dimiliki oleh semua orang, kecuali oleh orang-orang khusus, padahal tidak demikian. Semua manusia berpotensi mendapatkan Ilmu Laduni, asal tahu ilmunya dan benar penerapannya. Ilmu Laduni itu didatangkan kepada jiwa yang kontemplatif sehingga mendapatkan ilmu yang intuitif, itu manakala jiwa yang kontemplatif tersebut wushul kepada Allah Swt.
Adapaun hubungannya dengan alam mimpi, oleh karena secara qudroti seseorang mestinya sudah waktunya menerima ilmu yang intuitif tersebut, namun oleh karena kurang persiapan lahir batin, disebabkan tidak mengerti ilmunya, maka proses turunyya ilmu laduni tersebut terjadi di dalam mimpi, karena alam mimpi merupakan 46% alam kenabian. Parahnya lagi kebanyakan kita kurang memahami hakekat alam mimpi dan hakekat ilmu laduni, sehingga karunia besar itu terlewatkan begitu saja.
Ilmu Laduni tersebut berupa pemahaman hati dan kemampuan pribadi, merupakan inspirasi Ilahiyah yang didatangkan sebagai buah amal yang dilakukan. Ketika potensi lahir manusia berinteraksi dengan potensi batin, dengan izin Allah semua kemungkinan bisa terjadi, itu manakala interaksi tersebut dibarengi dengan dzikir dan berdoa kepada Allah Swt.
Bagaimanakah penjelasan lengkapnya tentang ilmu laduni, rahasia alam mimpi, menakwilkan mimpi sampai meredaksikan mimpi. Semuanya diuraikan dengan apik dan gamblang, tanpa megerutkan dahi oleh pengarangnya Muhammad Luthfi Ghazali.
Untuk order buku ini bisa hubungi Sdr Verri JP, sekarang juga di
no HP/WA : 08111494599.
Langganan:
Postingan (Atom)








