Tampilkan postingan dengan label M Luthfi Ghozali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label M Luthfi Ghozali. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 April 2020

Alfurqon, Lailatul Qodar Di Luar Ramadhan- Resensi Buku



Resensi Buku : Al Furqon Lailatul Qodar Di luar Ramadhan
Karya              : Muhammad Luthfi Ghozali
Penerbit         : Abshor, Semarang
Halaman        : xx +448 hlm.  14 x21
Diresensi oleh : Verri J.P
Kondisi buku : Baru dari Penerbit.
Berat buku :  1.1 kg
Harga            : Rp 105.000,- Belum Ongkir

https://verijp.blogspot.com/2020/04/alfurqon-lailatul-qodar-di-luar.html?m=1


Prolog:
Membaca judul buku "Al Furqon Lailatul Qodar Di luar Ramadhan", bagaikan membaca tafsir dua firman Allah,  yaitu  Surat Al Furqon (surat ke-25) dan Surat Al Qadr (Surat ke 97).

Menurut kamus ilmu Al Quran yang  dimaksud Al Furqan adalah pembeda, maksudnya membedakan antara yang hak dan bathil, yang baik dan buruk, yang bermanfaat maupun mudharat sehingga  dengan Al Furqon itu hati seorang hamba menjadi yakin kepada Tuhannya.

Sedangkan Al Qadr (kadar) artinya kemuliaan.
Isi surat ini adalah tentang diturunkannya Al Quran pada malam lailatul kadar, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, para malaikat dan Jibril turun ke dunia pada malam lailatul kadar untuk mengatur segala urusan.

Bicara tentang lailatul kadar mengingatkan  saya pada  pencarian saya tentang   malam Lailatul Kadar di bulan Ramadhan lima belas tahun yang lalu di  Gua Hiro, di suatu gunung yang bernama Jebel Nur  di Mekah, Saudi Arabia.  Di sanalah tempat  Nabi Muhammad SAW  mendapatkan wahyu pertama kali  berupa Surat Al Qadr (Surat ke-97).

Di kota Mekah saya banyak bertanya kepada beberapa ustadz atau para kyai dari Indonesia yang kebetulan sedang umroh tentang  ciri-ciri Lailatul Qadar tersebut.

Dari uraian mereka banyak informasi yang bisa saya dapatkan  diantaranya mereka menyebut ciri lailatul qadar adalah, malamnya hening,  membekunya air, merunduknya pohon dan lain-lain. Setelah mengetahui  ciri-ciri tersebut bukannya saya menjadi tenang, namun  malah sebaliknya  membuat semakin penasaran  dan berakibat pada peribadatan saya terganggu karena menjadi was-was takut kehilangan lailatul qadar tersebut.

Semestinya saya tidak perlu waswas, karena di dalam perjalanan spiritual bukanlah letak keberhasilannnya bukan pada ujian fisik belaka  dan hasilnya bukan berupa ijazah ataupun stempel passport yang nyata melainkan berupa suatu mentalitas pemahaman seorang hamba kepada Tuhan-Nya sehingga menjadikannya sebagai wushul  perantara atau tersingkapnya hiasan Al Haqq kepada seorang hamba dimana dia tenggelam di dalam Nya.

                              -o0o-

Sengaja prolog  diatas saya tulis untuk mengajak para pembaca memahami konsepsi waktu.

Bagaimana kita bisa  memahami waktu yang sudah lampau tapi bila kita menggalinya kembali dengan 'bermemori ria' seolah menjadi dekat bahkan seolah-olah baru saja terjadi?

Bicara tentang waktu, semua memori  tentang perjalanan pencarian lailatul kadar tersebut muncul seolah-olah tidak ada penyekat antara memori kejadian tahun 1994 dengan  tahun 2009.  Diam-diam saya membenarkan  teori  Roger Sperry  "Dual Brain" dan "Hemispheric Specialization" yang menyatakan bahwa salah satu fungsi otak kanan adalah pemikiran holistik dan tidak bergantung waktu.

 Seperti kita ketahui bahwa umumnya yang disebut malam lailatul qadar - disebut Al Quran sebagai "Satu Malam yang lebih baik dari seribu bulan"  mengacu kepada satu malam di bulan Ramadhan. Tetapi bagaimanakah malam itu? Apa terjadi hanya sekali saja pada saat turunnya Al Quran /Nuzulul Quran? setiap bulan Ramadhan sepanjang sejarah? Atau sepanjang tahun baik Ramadhan ataupun tidak?

Malam Al Qadr yang ditemui Nabi pertama kali adalah ketika menyendiri di Gua Hira, Beliau merenung tentang diri  dan masyarakatnya. Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Jibril  atau Ar-Ruh membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.

Langkah kita untuk memahami Lailatul Qadar adalah beriman dahulu, berdasarkan pernyataan Al Quran "Ada satu malam yang bernama Lailatul Qadar" (QS. 97:1) dan bahwasannya  malam itu adalah "malam yang pernuh berkah dimana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar Dengan penuh kebijaksanaan" (QS.44:3).

Dilihat dari penjelasan diatas yang bersumber pada Kalamullah  yang intinya menjelaskan bahwa Lailatul Qadar  terjadi pada  bulan Ramadhan.

Bagaimana kalau Al Furqon, lailatul Qadar di luar Ramadhan  apakah bisa terjadi?

Menurut Muhammad Luthfi Ghozali, lailatul Qadar di luar bulan Ramadhan itu bisa saja terjadi alasannya, dengan asumsi bahwa dengan amal ibadah itu manusia bisa meningkatkan kualitas hidupnya, maka  bagi orang-orang yang berharap mendapatkan Lailatul Qadar bisa mencari kapan saja, baik di dalam maupun di luar Ramadhan, yaitu dengan melaksanakan mujahadah dan riyadah di jalan Allah SWT. Asumsi itu berdasarkan bukti bahwa setiap perintah Allah SWT kepada hamba-Nya, pasti ada aspek pembelajarannya (tarbiyah) di dalamnya. Tarbiyah yang sangat berguna bagi pembentukan karakter dan pendewasaan jiwa manusia, yaitu pada aspek filosofinya yang selalu dirahasiakan eksistensinya kecuali bagi seorang hamba yang matahatinya telah cemerlang dengan nur ma'rifat.
Aspek pembelajaran itu bukan untuk memberatkan hidup manusia, namun sesungguhnya hanya untuk menciptakan peluang amal, agar manusia mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, baik lahir maupun bathin.

Hakekat Lailatul Qadr dan Al Furqon adalah sama, yaitu sama-sama anugerah Allah SWT yang dikhususkan kepada hamba-hambanya yang beriman.

Perbedaannya, lailatul kadar itu fasilitas (serupa idul fitri) sementara Al Furqan adalah buah yang diberikan Allah SWT sebagai balasan apa-apa yang telah dikerjakan oleh seorang hamba ketika dua fasilitas tersebut dipakai dengan benar.

Jadi, keberadaan lailatul Qadr dan Idul Fitri itu di luar jiwa manusia sedang Al Furqon ada di dalam hatinya. Bisa berupa pengetahuan, iman, yakin, Nur Allah, nur Ma'rifat atau apapun juga, yang hakekatnya sama-sama berbentuk kekuatan yang memancar dari dalam hati, sehingga mampu menjadi obor penyulut semangat pengabdian dan perjuangan di jalan Allah SWT.

Menurut Luthfi Ghozali yang mendapatkan Al Furqon adalah Ulul Albab, sehingga dengannya Ulul Albab selalu mampu membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang ditebarkan dalam kehidupan. Luthfi mengutip QS 3:190, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam terdapat tanda-tanda bagi Ulul Albab". Luthfi menegaskan bahwa yang dimaksud Ulul Albab bukan hanya orang yang berakal saja sebagaimana pemahaman umum terhadap ayat tersebut.
"Sebab, kalau hanya orang yang berakal saja, tidak mungkin mereka mampu membaca setiap  sinyal yang disebarkan Allah SWT di alam semesta, terlebih terhadap sinyal yang bersifat bathin. Karena hanya orang yang matahatinya cemerlang saja yang mampu berbuat demikian." Tegas luthfi yang ditulis pada bab terakhir. Selanjutnya Luthfi menjelaskan secara terperinci  bagaimana menjadi Ulul Albab tersebut.

 Ide yang diberikan Luthfi tersebut disetujui Ahsin W. Al Hafidz, di dalam Kamus Al Quran karangannya, menurut Ahsin yang dimaksud Ulul Albab adalah orang yang memiliki akal murni, yang tidak diselubungi oleh kulit, yaitu kabut ide yang melahirkan kerancuan dalam berfikir, dengan perkataan lain, Ulul Albab adalah orang-orang yang berfikir atau cendekia.

Salah satu sifat Ulul Albab yang dipuji oleh Allah adalah "yang mendengar perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya." (QS AzZumar [39]:18)
Sebagai penutup, Luthfi menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Al Furqon atau Lailatul Qadr diluar Ramadhan adalah adalah Nur Allah yang menerangi jati diri manusia agar dengan Nur itu, manusia mampu memantulkan Nur kesempurnaannya dengan sempurna demi kesempurnaan alam semesta, atau yang disebut rahmatan lil aalamiin dan ini artinya menjadi insan kamil.

Sekedar masukan dari peresensi, buku "Al Furqon, lailatul Qadar di Luar Ramadhan" ini berdurasi baca cukup panjang, maklum tebalnya mencapai 448 halaman lebih. Akan lebih baik bila menggunakan alur menurun, yaitu kesimpulan dikedepankan dahulu baru terurai ke sub pokok bahasan. Karena judul buku ini Al Furqon, akan tetapi masuk ke bab Al Furqonnya baru dibahas pada halaman 291 sehingga pembaca sering dibuat penasaran  kenapa untuk mencapai bab yang dijadikan judul buku itu terlalu lama. Walaupun demikian, rasanya ini tidak masalah karena Al Furqon dan Lailatul Kadar itu masing-masing bisa berdiri sendiri. Pun pula, lailatul kadar lebih banyak membahas masalah waktu, bukankah lebih tepat bila waktu itu sebagai predikat menerangkan Al Furqon sebagai subyek?

Buku ini mengajak pembaca menyelami hikmah dibalik segala kehendak Allah Ta'ala dan kemampuan diri dalam membaca tanda-tanda yang ditebarkan baik dalam ayat yang tersurat maupun tersirat serta inayah azaliyah yang menyinari perilaku, yang akan membuka penutup mata hati dan membawa manusia kepada jalan yang lurus serta keridhoan Tuhannya.

Buku ini, dengan gaya bahasanya yang mengalir ringan akan sangat bermanfaat bagi siapa saja yang menyukai bacaan syariah (aspek lahir) dan aspek bathin. Buku ini sangat cocok dibaca saat bulan Ramadhan, karena lailatul qadar bertepatan waktunya dengan bulan Ramadhan, sambil untuk mengisi waktu Anda  yang lapang karena bertepatan diterapkannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di seluruh negara Indonesia.

Apabila Anda tertarik buku "Al Furqon, Lailatul Qodar di Luar Ramadhan" ini silakan WA untuk order  sekarang juga kepada Verri JP : WA 08111494599.





Sabtu, 25 April 2020

Menggali Kebahagiaan Dari Sumbernya, Resensi Buku



Resensi Buku
Judul : Menggali Kebahagiaan Dari Sumbernya.
Mengobati stress dan trauma dengan dzikir dan doa.
Karya : Muhammad Luthfi Ghazali
Peresensi : Verri JP
Penerbit : al Abshor, Semarang, 2017
Halaman :  viii + 178: 14 x20
Kategori: Agama & Kepercayaan
Kondisi : Baru
Berat : 0.25 Kilogram
Harga : Rp 60.000,- belum ongkir

https://verijp.blogspot.com/2020/04/menggali-kebahagiaan-dari-sumbernya.html?m=1

Era milenial ditandai dengan dua hal sebagai cirinya. Penggunaan teknologi modern sebagai alat bantu dan berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai wujud intelektual manusia. Dengan kedua hal tersebut  generasi  modern semestinya manusia menjadi lebih arif dan bijak. Namun, dalam kenyataannya  banyak manusia yang kwalitasnya lebih rendah dibanding kemajuan berpikir dan teknologi yang dicapainya. Akibatnya ada ketidak seimbangan yang menimbulkan gangguan kejiwaan.

Ketidak berdayaan manusia bermain dalam pentas peradaban modern membuat manusia terperangkap dalam situasi "manusia terpasung" seperti jaman lockdown sekarang ini  karena wabah Cofid 19.  Dada pun terasa sesak.

Sebagai akibat  dari sikap hipokrit yang berkepanjangan ini manusia menjadi stress dan trauma karena psikosomatik.

Dzikir dan doa sebagai solusi krisis.
Krisis keruhanian sebenarnya berkaitan dengan pandangan hidup seseorang. Pandangan hidup yang salah berakibat logika yang salah dalam merespon realita.

Manusia adalah mahluk yang berpikir dan merasa. Berdoa artinya menghidupkan hubungan rasa antara manusia dengan Tuhan. Kesadaran rasa ini akan menempatkan manusia dalam sistim harmoni sunatullah. Bagi orang yang sudah sampai pada stasiun ridha atau  bermakrifat atau mahabbah tentu tidak terganggu, karena pusat perhatiannya tidak lagi pada yang berubah tapi pada yang Tetap  dan Tidak Berubah, yaitu Allah Swt. Kesadaran rasa berhubungan dengan Allah swt ini akan membuat bashirah terbuka sehingga membuat selalu  ingin dekat dengan Allah Taala.

Kesadaran merasa berhubungan dengan Tuhan itulah yang disebut dzikir.

Dzikir adalah aktivitas mental, bukan aktivitas mulut. Dzikir melalui mulut adalah awal daro dzikir aktivitas mental. Sholat kita dan doa kita, bahkan pekerjaan kita  menurut salah satu riwayat adalah wujud dari  dzikir juga.

Alquran secara jelas memerintahkan kaum beriman agar banyak berdzikir dan bertasbih. QS 3:41. Dengan dzikir yang benar akan memperoleh ketenangan hati Qs 13:28.

Orang berdoa
 *"Robbisy-rohlie shodrie wa yassirlie amrie"*  berarti memohon kepada Allah Swt. diberi kebahagiaan hidup, karena yang dimaksud dada lapang  adalah kebahagiaan, padahal untuk mencapainya tidaklah mudah.

Manusia harus memenuhi syarat-syarat tertentu untuk bahagia. Diantaranya terpenuhinya segala kebutuhan dasar hidupnya, baik yang bersifat jasmani, kejiwaan, sosial dan spritual. Tanpa terpenuhinya kebutuhan dasar tersebut mustahil hati manusia bisa bahagia kecuali dengan mengupayakan melalui sumbernya.

Kebahagiaan bukan dihasilkan dari olah pikiran melainkan kondisi perasaan.

Hatilah yang bisa merasakan bahagia, ketika pikiran sudah tidak terganggu lagi oleh kesibukan dan kegaduhan hidup.

Jadi capaian yang diharapkan dengan berdo'a *"Robbisy-rohlie shodrie wa yassirlie amrie"* adalah kebahagiaan hidup dengan mencari langsung dari sumbernya ketika syarat-syaratnya sedang tidak terpenuhi bagi seseorang karena hidupnya sedang bermasalah, stress atau trauma sehingga dadanya sempit dan lisannya kelu, tidak sanggup berbicara.

Akhirul kalam pada masyarakat modern dzikir dan doa  sangat efektif dalam membuat keseimbangan antara menuruti dinamika kerja yang terus  menantang dan dorongan batin yang merindukan ketentraman spiritual yang membuat dada terasa lapang.

Di atas adalah sekilas kesimpulan dari apa yang dipaparkan pada buku karya  Muhammad Luthfi Ghazali, selain rahasia berlapang dada yang merupakan indikator  adanya hidayah Allah di dalamnya,  dijelaskan secara gamblang  bagaimana pikiran bisa membentuk perasaan, sedangkan perasaan mempengaruhi pikiran, dengan dada lapang menjadikan orang beriman bisa banyak bertasbih dan berdzikir kepada Allah Taala, hati yang sehat, pikiran jadi sehat. Sebagai penutup dijelaskan adab dalam berdoa agar doa makbul.

Penulis merekomendasikan buku ini agar  bisa dibaca sambil mengamalkan dzikir dan mengisi kegiatan stay @t home selama diterapkan  PSBB - Pembatasan Sosial Berskala Besar.

Untuk order buku "Menggali Kebahagiaan dari Sumbernya, Mengobati Stress dan Trauma dengan Dzikir dan Doa" bisa hubungi sekarang juga :  Verri JP telp/WA no. 08111494599.


Jumat, 24 April 2020

Menguak Keajaiban Mimpi, Menggali Sumber Ilmu Laduni


Judul buku : Menguak Keajaiban Mimpi,    
                        Menggali Sumber Ilmu Laduni.
Karya           : M. Luthfi Ghozali
Peresensi    : Verri JP
Penerbit      : Al Abshor, Semarang, 2017.
Halaman     : x + 188, 14 x 20
Berat            : 250 gram.

Mimpi seseorang itu berkaitan dengan jiwa orang dan niat sejati orang. Nilai yang dilekatkan pada setiap  unsur berhubungan erat dengan persepsi ideal yang diambil dari kehidupan sebenarnya. Jadi, kita harus menyadari bahwa tindakan apapun yang dilakukan seseorang dalam sebuah mimpi sesungguhnya karena izin Tuhan.

Laduni adalah pemberian Allah. Menurut kamus ilmu Tasawuf ilmu laduni asal kata ladun. Ladun  bermakna sisi, dekat, pangkuan. Karena kata ladun termasuk jenis kata  zharaf, bisa diartikan dari sisi, atau dari pangkuan. Al Ghazali, mendefinisikan laduni dengan ilmu yang dipancarkan langsung oleh Tuhan ke lubuk hati manusia tanpa belajar atau berargumentasi ilmiah.

Pada umumnya orang mempunyai anggapan terlalu berlebihan terhadap Ilmu Laduni. Ilmu Laduni dianggap sesuatu yang sangat sakral sehingga tidak bisa dimiliki oleh semua orang, kecuali oleh orang-orang khusus, padahal tidak demikian. Semua manusia berpotensi mendapatkan Ilmu Laduni, asal tahu ilmunya dan benar penerapannya. Ilmu Laduni itu didatangkan kepada jiwa yang kontemplatif sehingga mendapatkan ilmu yang intuitif, itu manakala jiwa yang kontemplatif tersebut wushul kepada Allah Swt.

Adapaun hubungannya dengan alam mimpi, oleh karena secara qudroti seseorang mestinya sudah waktunya menerima ilmu yang intuitif tersebut, namun oleh karena kurang persiapan lahir batin, disebabkan tidak mengerti ilmunya, maka proses turunyya ilmu laduni tersebut terjadi di dalam mimpi, karena alam mimpi merupakan 46% alam kenabian. Parahnya lagi kebanyakan kita kurang memahami hakekat alam mimpi dan hakekat ilmu laduni, sehingga karunia besar itu terlewatkan begitu saja.

Ilmu Laduni tersebut berupa pemahaman hati dan kemampuan pribadi, merupakan inspirasi Ilahiyah yang didatangkan sebagai buah amal yang dilakukan. Ketika potensi lahir manusia berinteraksi dengan potensi batin, dengan izin Allah semua kemungkinan bisa terjadi, itu manakala interaksi tersebut dibarengi dengan dzikir dan berdoa kepada  Allah Swt.

Bagaimanakah penjelasan lengkapnya tentang ilmu laduni, rahasia alam mimpi, menakwilkan mimpi sampai meredaksikan mimpi. Semuanya diuraikan dengan apik dan gamblang, tanpa megerutkan dahi oleh pengarangnya Muhammad Luthfi Ghazali.

Untuk order buku ini bisa hubungi Sdr Verri JP, sekarang juga di
no  HP/WA :  08111494599.

Selasa, 14 Agustus 2018

Pesugihan Islami



"Pesugihan Islami,
Jiwa Sosial Bikin Hidup Tidak Sial "

Karya : Muhammad Luthfi Ghozali
Penerbit : Abshor Semarang
Tahun :2018
Halaman :  256 .13 x 20
Harga penerbit : Rp 60.000 (Belum Ongkir)
Diresensi oleh : Verri JP

Menjadi kaya adalah harapan hampir semua manusia di dunia. Hanya saja sebagian kecil manusia yang bisa kaya sedangkan lainnya adalah biasa-biasa  saja bahkan ada yang sengsara.

Manusia hadir di dunia yang diharapkan adalah karyanya, hidup sejahtera dan bebas merdeka.
Untuk mewujudnkan impiannya banyak buku-buku panduan menjadi kaya diterbitkan. Contoh salah satu buku dari penerbit luar  adalah  karya Robert T. Kiyosaki, dengan judul "Rich Dad Poor Dad" ,   sedangkan dari  penerbit dalam negeri, seperti "Pesugihan Islami, Jiwa Sosial Bikin Hidup Tidak Sial",  karya M. Luthfi Ghozali. Untuk ringkasnya selanjutnya saya menyebut "Pesugihan Islami".

Di dalam agama Islam, apakah ada contoh  tokoh orang kaya? Perlu dipahami di dalam Islam menjadi kaya itu perlu, karena dalam beragama pun perlu dana, contohnya pergi haji, berkurban, dan lain-lain. Sedangkan  contoh tokoh orang  kaya culup banyak, dimulai  dari Rasul SAW  sendiri dengan  istrinya, para sahabat, para wali penyebar agama di Jawa dan saudagar-saudagar lainnya.

Menurut Luthfi, ada satu kiat untuk membangkitkan ekonomi yaitu pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan persepsi buruk pada pikiran dan menggantinya dengan persepsi positip dan fokuskan pikiran dan perasaan untuk mengatasi masalah bisnis  yang sedang dialami.

Hal ini seperti yang tersebut dalam QS Hud 11 ayat 114. "Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan ".

Ibaratnya  orang menuangkan air putih pada gelas berisi tinta secara terus menerus sampai didapat air jernih, demikian  dijelaskan Luthfi secara sederhana namun sesuai dengan hukum The  Law of Attraction yang menyebutkan  bahwa manusia adalah magnet dan setiap peristiwa yang dialaminya datang atas undangannya sendiri (Elizabeth Town, 1906).

Demikianlah segala sesuatu yang dipikirkan dengan segenap perhatian, energi dan konsentrasi baik positif maupun negatif akan datang dalam kehidupan kita, serta apa yang ada di pikiran akan menjadi kenyataan.

Di dalam buku Pesugihan Islami ini juga  dibahas syarat menjadi sukses, diantaranya mengaktifkan  insting  bagaimana cara membaca peluang, pengetahuan manajerial,  mengaktifkan jaringan kerja sama sesama pengusaha,  dan membangun kepercayaan serta pengelolaan  finansial.

Ada sedikit perbedaan antara karya Luthfi dengan karya  Kiyosaki yakni ulasannya disertai  studi kasus dan dibalut ayat-ayat kitab suci yang mendukung sebagai ilustrasinya sehingga memudahkan untuk dipahami dan tetap dalam corak  agama Islam.

Contoh diantaranya adalah bagaimana rasa syukur bisa membangkitkan rasa percaya diri, bagaimana jiwa sosial memberi sedekah membuat Allah swt ridho yang dampaknya membuat penerima sedekah bahagia, orang lain senang, dan membuat rezeki terbuka dan lancar.

Bagaimana orang yang selalu tersenyum menunjukkan jiwa yang kuat. Bagaimana kesabaran dan rasa tawakal  membuat diri ini mampu lolos dalam menghadapi  ujian yang berat.

Selain itu di dalam buku Pesugihan Islami juga dilengkapi kisah inspiratif dan studi kasus bisnis. Yang bisa dijadikan acuan dalam menapak perjalanan menjadi kaya.

Orang dzikir rejekinya mengalir,
Orang yang tulus  rejekinya tak putus-putus.
Orang yang sabar rejekinya lebar.
Orang yang ikhlas rejekinya deras. Orang yang semangat dalam hidup rejekinya  tidak akan redup.
Orang memaafkan dan  tawakal niscaya rejekinya kekal.
Orang bersedekah niscaya rejekinya terus merekah..

Akhirul kalam, kehidupan dunia  adalah ladang akhirat. Siapa menanam kebaikan akan menuai buah kebaikan. Setiap jiwa tidak menanggung beban yang tidak mampu ditanggungnya. Tandanya mampu, adalah kemauan. Dimana ada kemauan disitu ada jalan.
Untuk menjadi kaya secara Islami mari dapatkan panduan jalannya berupa  buku "Pesugihan Islami, berjiwa sosial bikin hidup tidak sial."

Untuk order  , hubungi Verri - WA 08111494599, HP 087883171247







Minggu, 13 Mei 2018

Filsafat Kopi


*"Filsafat Kopi Kebahagiaan"*

Hidup ini bagai secangkir kopi, sedangkan pekerjaan, uang dan posisi dalam masyarakat adalah cangkirnya - ia hanyalah alat untuk mendukung dan menampung kehidupan. Apapun yang kita miliki tidak dapat menggantikan kualitas kehidupan (bak kopi) yang sesungguhnya. Seringkali, karena berkonsentrasi hanya pada 'cangkir' – hidup yang lahiriah, the outer life. Kita pun gagal menikmati _'kopi'_  hidup itu sendiri, the real inner life, yang hanya ada pada Sang Pencipta di dalam diri kita'.

Kebahagiaan  bukan dihasilkan  dari olah pikiran melainkan kondisi perasaan. Hatilah yang bisa merasakan bahagia, ketika pikiran sudah tidak terganggu lagi oleh kesibukan dan kegaduhan hidup.

Kebahagiaan bersifat immaterial.
Sesuatu yang tak terbatas hanya memberikan kebahagiaan dan damai, tak terpisah dari Diri-NYA.
Itu mengapa kebagiaan adalah hak setiap individu. Baik si kaya ataupun si miskin.

Demikian juga dengan kehidupan bila kita hanya fokus pada material maka hanya akan membuat hidup terasa kerontang. Untuk kebahagiaan dan kedamaian carilah langsung dari sumbernya.

Lalu bagaimana caranya?
Tunggu resensi buku "Menggali Kebahagiaan Dari Sumbernya", lengkap dengan cara mengobati Stress dan trauma dengan dzikir dan doa, karya : Muhammad Luthfi Ghozali, viii+178+14x20. Yang akan kami sajikan pada  minggu depan oleh Verri J.P.
Harga buku : rp 60.000 belum termasuk ongkir.
Pesan buku : HP 08111494599.

Jakarta, 14/05/18
#verrijp
#menggalikebahagiaandarisumbernya
#mengobatistressdengandzikirdandoa
#muhammadluthfighozali