Tampilkan postingan dengan label Abshor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abshor. Tampilkan semua postingan
Senin, 27 April 2020
Alfurqon, Lailatul Qodar Di Luar Ramadhan- Resensi Buku
Resensi Buku : Al Furqon Lailatul Qodar Di luar Ramadhan
Karya : Muhammad Luthfi Ghozali
Penerbit : Abshor, Semarang
Halaman : xx +448 hlm. 14 x21
Diresensi oleh : Verri J.P
Kondisi buku : Baru dari Penerbit.
Berat buku : 1.1 kg
Harga : Rp 105.000,- Belum Ongkir
https://verijp.blogspot.com/2020/04/alfurqon-lailatul-qodar-di-luar.html?m=1
Prolog:
Membaca judul buku "Al Furqon Lailatul Qodar Di luar Ramadhan", bagaikan membaca tafsir dua firman Allah, yaitu Surat Al Furqon (surat ke-25) dan Surat Al Qadr (Surat ke 97).
Menurut kamus ilmu Al Quran yang dimaksud Al Furqan adalah pembeda, maksudnya membedakan antara yang hak dan bathil, yang baik dan buruk, yang bermanfaat maupun mudharat sehingga dengan Al Furqon itu hati seorang hamba menjadi yakin kepada Tuhannya.
Sedangkan Al Qadr (kadar) artinya kemuliaan.
Isi surat ini adalah tentang diturunkannya Al Quran pada malam lailatul kadar, yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, para malaikat dan Jibril turun ke dunia pada malam lailatul kadar untuk mengatur segala urusan.
Bicara tentang lailatul kadar mengingatkan saya pada pencarian saya tentang malam Lailatul Kadar di bulan Ramadhan lima belas tahun yang lalu di Gua Hiro, di suatu gunung yang bernama Jebel Nur di Mekah, Saudi Arabia. Di sanalah tempat Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyu pertama kali berupa Surat Al Qadr (Surat ke-97).
Di kota Mekah saya banyak bertanya kepada beberapa ustadz atau para kyai dari Indonesia yang kebetulan sedang umroh tentang ciri-ciri Lailatul Qadar tersebut.
Dari uraian mereka banyak informasi yang bisa saya dapatkan diantaranya mereka menyebut ciri lailatul qadar adalah, malamnya hening, membekunya air, merunduknya pohon dan lain-lain. Setelah mengetahui ciri-ciri tersebut bukannya saya menjadi tenang, namun malah sebaliknya membuat semakin penasaran dan berakibat pada peribadatan saya terganggu karena menjadi was-was takut kehilangan lailatul qadar tersebut.
Semestinya saya tidak perlu waswas, karena di dalam perjalanan spiritual bukanlah letak keberhasilannnya bukan pada ujian fisik belaka dan hasilnya bukan berupa ijazah ataupun stempel passport yang nyata melainkan berupa suatu mentalitas pemahaman seorang hamba kepada Tuhan-Nya sehingga menjadikannya sebagai wushul perantara atau tersingkapnya hiasan Al Haqq kepada seorang hamba dimana dia tenggelam di dalam Nya.
-o0o-
Sengaja prolog diatas saya tulis untuk mengajak para pembaca memahami konsepsi waktu.
Bagaimana kita bisa memahami waktu yang sudah lampau tapi bila kita menggalinya kembali dengan 'bermemori ria' seolah menjadi dekat bahkan seolah-olah baru saja terjadi?
Bicara tentang waktu, semua memori tentang perjalanan pencarian lailatul kadar tersebut muncul seolah-olah tidak ada penyekat antara memori kejadian tahun 1994 dengan tahun 2009. Diam-diam saya membenarkan teori Roger Sperry "Dual Brain" dan "Hemispheric Specialization" yang menyatakan bahwa salah satu fungsi otak kanan adalah pemikiran holistik dan tidak bergantung waktu.
Seperti kita ketahui bahwa umumnya yang disebut malam lailatul qadar - disebut Al Quran sebagai "Satu Malam yang lebih baik dari seribu bulan" mengacu kepada satu malam di bulan Ramadhan. Tetapi bagaimanakah malam itu? Apa terjadi hanya sekali saja pada saat turunnya Al Quran /Nuzulul Quran? setiap bulan Ramadhan sepanjang sejarah? Atau sepanjang tahun baik Ramadhan ataupun tidak?
Malam Al Qadr yang ditemui Nabi pertama kali adalah ketika menyendiri di Gua Hira, Beliau merenung tentang diri dan masyarakatnya. Ketika jiwa beliau telah mencapai kesuciannya, turunlah Jibril atau Ar-Ruh membawa ajaran dan membimbing beliau sehingga terjadilah perubahan total dalam perjalanan hidup beliau bahkan perjalanan hidup umat manusia.
Langkah kita untuk memahami Lailatul Qadar adalah beriman dahulu, berdasarkan pernyataan Al Quran "Ada satu malam yang bernama Lailatul Qadar" (QS. 97:1) dan bahwasannya malam itu adalah "malam yang pernuh berkah dimana dijelaskan atau ditetapkan segala urusan besar Dengan penuh kebijaksanaan" (QS.44:3).
Dilihat dari penjelasan diatas yang bersumber pada Kalamullah yang intinya menjelaskan bahwa Lailatul Qadar terjadi pada bulan Ramadhan.
Bagaimana kalau Al Furqon, lailatul Qadar di luar Ramadhan apakah bisa terjadi?
Menurut Muhammad Luthfi Ghozali, lailatul Qadar di luar bulan Ramadhan itu bisa saja terjadi alasannya, dengan asumsi bahwa dengan amal ibadah itu manusia bisa meningkatkan kualitas hidupnya, maka bagi orang-orang yang berharap mendapatkan Lailatul Qadar bisa mencari kapan saja, baik di dalam maupun di luar Ramadhan, yaitu dengan melaksanakan mujahadah dan riyadah di jalan Allah SWT. Asumsi itu berdasarkan bukti bahwa setiap perintah Allah SWT kepada hamba-Nya, pasti ada aspek pembelajarannya (tarbiyah) di dalamnya. Tarbiyah yang sangat berguna bagi pembentukan karakter dan pendewasaan jiwa manusia, yaitu pada aspek filosofinya yang selalu dirahasiakan eksistensinya kecuali bagi seorang hamba yang matahatinya telah cemerlang dengan nur ma'rifat.
Aspek pembelajaran itu bukan untuk memberatkan hidup manusia, namun sesungguhnya hanya untuk menciptakan peluang amal, agar manusia mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, baik lahir maupun bathin.
Hakekat Lailatul Qadr dan Al Furqon adalah sama, yaitu sama-sama anugerah Allah SWT yang dikhususkan kepada hamba-hambanya yang beriman.
Perbedaannya, lailatul kadar itu fasilitas (serupa idul fitri) sementara Al Furqan adalah buah yang diberikan Allah SWT sebagai balasan apa-apa yang telah dikerjakan oleh seorang hamba ketika dua fasilitas tersebut dipakai dengan benar.
Jadi, keberadaan lailatul Qadr dan Idul Fitri itu di luar jiwa manusia sedang Al Furqon ada di dalam hatinya. Bisa berupa pengetahuan, iman, yakin, Nur Allah, nur Ma'rifat atau apapun juga, yang hakekatnya sama-sama berbentuk kekuatan yang memancar dari dalam hati, sehingga mampu menjadi obor penyulut semangat pengabdian dan perjuangan di jalan Allah SWT.
Menurut Luthfi Ghozali yang mendapatkan Al Furqon adalah Ulul Albab, sehingga dengannya Ulul Albab selalu mampu membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang ditebarkan dalam kehidupan. Luthfi mengutip QS 3:190, "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam terdapat tanda-tanda bagi Ulul Albab". Luthfi menegaskan bahwa yang dimaksud Ulul Albab bukan hanya orang yang berakal saja sebagaimana pemahaman umum terhadap ayat tersebut.
"Sebab, kalau hanya orang yang berakal saja, tidak mungkin mereka mampu membaca setiap sinyal yang disebarkan Allah SWT di alam semesta, terlebih terhadap sinyal yang bersifat bathin. Karena hanya orang yang matahatinya cemerlang saja yang mampu berbuat demikian." Tegas luthfi yang ditulis pada bab terakhir. Selanjutnya Luthfi menjelaskan secara terperinci bagaimana menjadi Ulul Albab tersebut.
Ide yang diberikan Luthfi tersebut disetujui Ahsin W. Al Hafidz, di dalam Kamus Al Quran karangannya, menurut Ahsin yang dimaksud Ulul Albab adalah orang yang memiliki akal murni, yang tidak diselubungi oleh kulit, yaitu kabut ide yang melahirkan kerancuan dalam berfikir, dengan perkataan lain, Ulul Albab adalah orang-orang yang berfikir atau cendekia.
Salah satu sifat Ulul Albab yang dipuji oleh Allah adalah "yang mendengar perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya." (QS AzZumar [39]:18)
Sebagai penutup, Luthfi menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan Al Furqon atau Lailatul Qadr diluar Ramadhan adalah adalah Nur Allah yang menerangi jati diri manusia agar dengan Nur itu, manusia mampu memantulkan Nur kesempurnaannya dengan sempurna demi kesempurnaan alam semesta, atau yang disebut rahmatan lil aalamiin dan ini artinya menjadi insan kamil.
Sekedar masukan dari peresensi, buku "Al Furqon, lailatul Qadar di Luar Ramadhan" ini berdurasi baca cukup panjang, maklum tebalnya mencapai 448 halaman lebih. Akan lebih baik bila menggunakan alur menurun, yaitu kesimpulan dikedepankan dahulu baru terurai ke sub pokok bahasan. Karena judul buku ini Al Furqon, akan tetapi masuk ke bab Al Furqonnya baru dibahas pada halaman 291 sehingga pembaca sering dibuat penasaran kenapa untuk mencapai bab yang dijadikan judul buku itu terlalu lama. Walaupun demikian, rasanya ini tidak masalah karena Al Furqon dan Lailatul Kadar itu masing-masing bisa berdiri sendiri. Pun pula, lailatul kadar lebih banyak membahas masalah waktu, bukankah lebih tepat bila waktu itu sebagai predikat menerangkan Al Furqon sebagai subyek?
Buku ini mengajak pembaca menyelami hikmah dibalik segala kehendak Allah Ta'ala dan kemampuan diri dalam membaca tanda-tanda yang ditebarkan baik dalam ayat yang tersurat maupun tersirat serta inayah azaliyah yang menyinari perilaku, yang akan membuka penutup mata hati dan membawa manusia kepada jalan yang lurus serta keridhoan Tuhannya.
Buku ini, dengan gaya bahasanya yang mengalir ringan akan sangat bermanfaat bagi siapa saja yang menyukai bacaan syariah (aspek lahir) dan aspek bathin. Buku ini sangat cocok dibaca saat bulan Ramadhan, karena lailatul qadar bertepatan waktunya dengan bulan Ramadhan, sambil untuk mengisi waktu Anda yang lapang karena bertepatan diterapkannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di seluruh negara Indonesia.
Apabila Anda tertarik buku "Al Furqon, Lailatul Qodar di Luar Ramadhan" ini silakan WA untuk order sekarang juga kepada Verri JP : WA 08111494599.
Selasa, 14 Agustus 2018
Pesugihan Islami
"Pesugihan Islami,
Jiwa Sosial Bikin Hidup Tidak Sial "
Karya : Muhammad Luthfi Ghozali
Penerbit : Abshor Semarang
Tahun :2018
Halaman : 256 .13 x 20
Harga penerbit : Rp 60.000 (Belum Ongkir)
Diresensi oleh : Verri JP
Menjadi kaya adalah harapan hampir semua manusia di dunia. Hanya saja sebagian kecil manusia yang bisa kaya sedangkan lainnya adalah biasa-biasa saja bahkan ada yang sengsara.
Manusia hadir di dunia yang diharapkan adalah karyanya, hidup sejahtera dan bebas merdeka.
Untuk mewujudnkan impiannya banyak buku-buku panduan menjadi kaya diterbitkan. Contoh salah satu buku dari penerbit luar adalah karya Robert T. Kiyosaki, dengan judul "Rich Dad Poor Dad" , sedangkan dari penerbit dalam negeri, seperti "Pesugihan Islami, Jiwa Sosial Bikin Hidup Tidak Sial", karya M. Luthfi Ghozali. Untuk ringkasnya selanjutnya saya menyebut "Pesugihan Islami".
Di dalam agama Islam, apakah ada contoh tokoh orang kaya? Perlu dipahami di dalam Islam menjadi kaya itu perlu, karena dalam beragama pun perlu dana, contohnya pergi haji, berkurban, dan lain-lain. Sedangkan contoh tokoh orang kaya culup banyak, dimulai dari Rasul SAW sendiri dengan istrinya, para sahabat, para wali penyebar agama di Jawa dan saudagar-saudagar lainnya.
Menurut Luthfi, ada satu kiat untuk membangkitkan ekonomi yaitu pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan persepsi buruk pada pikiran dan menggantinya dengan persepsi positip dan fokuskan pikiran dan perasaan untuk mengatasi masalah bisnis yang sedang dialami.
Hal ini seperti yang tersebut dalam QS Hud 11 ayat 114. "Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan ".
Ibaratnya orang menuangkan air putih pada gelas berisi tinta secara terus menerus sampai didapat air jernih, demikian dijelaskan Luthfi secara sederhana namun sesuai dengan hukum The Law of Attraction yang menyebutkan bahwa manusia adalah magnet dan setiap peristiwa yang dialaminya datang atas undangannya sendiri (Elizabeth Town, 1906).
Demikianlah segala sesuatu yang dipikirkan dengan segenap perhatian, energi dan konsentrasi baik positif maupun negatif akan datang dalam kehidupan kita, serta apa yang ada di pikiran akan menjadi kenyataan.
Di dalam buku Pesugihan Islami ini juga dibahas syarat menjadi sukses, diantaranya mengaktifkan insting bagaimana cara membaca peluang, pengetahuan manajerial, mengaktifkan jaringan kerja sama sesama pengusaha, dan membangun kepercayaan serta pengelolaan finansial.
Ada sedikit perbedaan antara karya Luthfi dengan karya Kiyosaki yakni ulasannya disertai studi kasus dan dibalut ayat-ayat kitab suci yang mendukung sebagai ilustrasinya sehingga memudahkan untuk dipahami dan tetap dalam corak agama Islam.
Contoh diantaranya adalah bagaimana rasa syukur bisa membangkitkan rasa percaya diri, bagaimana jiwa sosial memberi sedekah membuat Allah swt ridho yang dampaknya membuat penerima sedekah bahagia, orang lain senang, dan membuat rezeki terbuka dan lancar.
Bagaimana orang yang selalu tersenyum menunjukkan jiwa yang kuat. Bagaimana kesabaran dan rasa tawakal membuat diri ini mampu lolos dalam menghadapi ujian yang berat.
Selain itu di dalam buku Pesugihan Islami juga dilengkapi kisah inspiratif dan studi kasus bisnis. Yang bisa dijadikan acuan dalam menapak perjalanan menjadi kaya.
Orang dzikir rejekinya mengalir,
Orang yang tulus rejekinya tak putus-putus.
Orang yang sabar rejekinya lebar.
Orang yang ikhlas rejekinya deras. Orang yang semangat dalam hidup rejekinya tidak akan redup.
Orang memaafkan dan tawakal niscaya rejekinya kekal.
Orang bersedekah niscaya rejekinya terus merekah..
Akhirul kalam, kehidupan dunia adalah ladang akhirat. Siapa menanam kebaikan akan menuai buah kebaikan. Setiap jiwa tidak menanggung beban yang tidak mampu ditanggungnya. Tandanya mampu, adalah kemauan. Dimana ada kemauan disitu ada jalan.
Untuk menjadi kaya secara Islami mari dapatkan panduan jalannya berupa buku "Pesugihan Islami, berjiwa sosial bikin hidup tidak sial."
Untuk order , hubungi Verri - WA 08111494599, HP 087883171247
Langganan:
Postingan (Atom)

